Peran Mahasiswa Dalam Mewujudkan Pilgubsu 2013 yang Jujur dan Bersih
Dara Eli Laia
Dalam rangka menuju Pemilukada
SUMUT 2013 yang bersih diharapkan semua pihak mendukung agar semua calon
peminpin memberikan contoh yang baik bagi masyarakat, tidak lagi disuguhkan
dengan cara politik kotor, money politik dan Politik Hitam "Black
Campaign”.
Sebagai contoh, Di tengah
berlangsungnya Pilkada DKI Jakarta saat ini, panasnya suhu Politik di kota
Jakarta tidak hanya dirasakan di dunia nyata, namun semakin dirasakan juga di
dunia maya. Pendukung kedua kubu saling menyerang dan bertahan dengan
kata-kata. Ada yang berdasarkan fakta, tidak sedikit yang tanpa fakta, ada pula
serangan kata-kata berdasarkan fakta yang dibiaskan kebenarannya sedemikan rupa
sehinga merugikan kubu tertentu.
Pesta demokrasi sesungguhnya
dapat dijadikan sarana pendidikan politik masyarakat yang sangat effektif.
Dalam pesta demokrasi, publik diajak untuk berpartisipasi aktif belajar dan
berdialog secara konstruktif dengan pelaku-pelaku politk untuk menyelesaikan
masalah-masalah publik dan meningkatkan kesejahteraan dan kemaslahatan bersama.
“Demokrasi
akan berjalan dengan baik, sesuai dengan tujuannya, disaat setiap pemilik suara
telah mampu menentukan pilihannya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
rasional, tidak semata-mata berdasarkan jumlah sembako yang dibagikan pelaku politik
selama berkampanye atau, tidak pula berdasarkan kepopuleran artis yang
mendukung kampanye politik tersebut.”
Pendidikan politik masyarakat
akan berhasil dengan baik, apabila pelaku-pelaku politik mengedepankan kampanye
secara sehat dan konstruktif. Yang dikedepankan setiap kandidat seharusnya
keunggulan visi dan program yang diusungnya dari kandidat lain, dan tidak
mengedepankan kampanye hitam, menjelek-jelekkan , mendiskreditkan kandidat lain
dengan melemparkan isu-isu yang tidak relevant, fitnah ataupun melemparkan
tuduhan yang tidak berdasarkan fakta yang valid.
Dalam proses pemilukada SUMUT 2013, beberapa elemen yang
memiliki peran penting seperti elemen mahasiswa dan masyarakat. Mahasiswa
mempunyai peran strategis dalam pengawalan proses pelaksanaan Pilkada bersama
aktivis-aktivis masyarakat sipil lainnya, seperti: LSM, Akademisi, Pers, dan
Ormas/ OKP. Peran ini diambil, karena mahasiswa merupakan kekuatan masyarakat
sipil yang bersifat independen, objektif, dan berlandaskan pada aspek
moralitas. Oleh karena itu, pengawalan terhadap proses Pilkada langsung
merupakan peran yang strategis untuk dijalankan oleh mahasiswa.
Peran pengawalan
terhadap proses pilkada dapat dimainkan oleh mahasiswa sebagai individu maupun
oelh lembaga-lembaga mahasiswa, seperti: lembaga intern kampus, lembaga ekstern
kampus, dan organisasi mahasiswa kedaerahan. Adapun jalan yang bisa sekiranya
ditempuh oleh mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan dalam melakukan peranannya
dalam mengawal proses pilkada, antara lain: diskusi, seminar, opini publik,
artikel/tulisan di media massa, penyataan sikap, dan demonstrasi.
Pendidikan politik pada
masyarakat dilakukan sebagai wujud tanggung jawab mahasiswa kepada masyarakat.
Adapun wujud dari peran ini adalah adanya agenda mahasiswa seperti: bedah visi
dan misi calon kepala daerah, melakukan kajian terhadap kapasitas dan
integritas calon kepala daerah, membuat kriteria calon kepala daerah versi
mahasiswa atau membuat nota kesepakatan dalam bentuk kontrak politik kepada
calon kepala daerah.
Target dari
agenda-agenda ini adalah, masyarakat dapat menentukan pilihannya berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan yang rasional, bukan berdasarkan kharismatik semata.
Dalam pelaksanaan peran ini, etika yang harus dibangun oleh setiap organisasi
mahasiswa adalah sikap objektifitas dan akuntabilitas. Objektifitas yang
dimaksud ialah pembedahan visi/misi, pembuatan kriteria calon kepala daerah, hal
ini 3dilakukan dengan tanpa disusupi oleh kepentingan politik praktis. Hal ini
penting, sebab mahasiswa sebagai sebuah gerakan moral, mesti bersikap netral
dan berpihak kepada masyarakat luas. Mahasiswa, sebagai individu masyarakat
memiliki hak untuk berpartisipasi dalam setiap proses politik, baik saat
pencoblosan maupun dalam menentukan sikap untuk mendukung pasangan calon kepala
daerah tertentu.
Namun terdapat beberapa
masalah-masalah ketika mahasiswa berperan, yakni:
Pertama,
mahasiswa akan mudah diperalat dan ditunggangi oleh pihak-pihak yang
berkepentingan. Kedua, saling dukung mendukung calon kepala daerah
akan memperlemah gerakan mahasiswa. Karena, kemungkinan akan terjadi suatu
keadaan di mana sekelompok mahasiswa menyatakan dukungannya kepada calon si A,
sementara kelompok mahasiswa yang lain menyatakan mendukung si B, si C dan
seterusnya. Hal ini tentu akan berakibat memperlemah persatuan di kalangan
mahasiswa itu sendiri, mahasiswa akan terkotak-kotak dan dengan sendirinya
mahasiswa akan mudah untuk diadu domba dan dipecah belah.
Beberapa point
kekhawatiran diatas, besar peluangnya untuk terjadi. Namun keikutsertaan
mahasiswa dalam tim pemenangan calon kepala daerah, tetap memiliki aspek
positif bagi mahasiswa tersebut. Oleh karena itu perlu dirumuskan etika bersama
sebagai panduan normatif, menyikapi adanya ambivalensi tersebut, yaitu:
Lalu, bagaimana dengan
peran serta masyarakat menyongsong pemilukada SUMUT 2013? Masyarakat sebagai
pemilih memiliki peran penting dalam penyusunan daftar pemilih, peran tersebut
antara lain melakukan pengecekan nama pemilih dalam Daftar Pemilih Sementara
(DPS) yang diumumkan ditempat-tempat strategis. Bila nama pemilih yang
bersangkutan atau pemilih lain yang memang memenuhi syarat belum dimasukkan
atau ada nama pemilih yang sudag tidak memenuhi syarat tetapi masih dimasukkan
(seperti sudah meninggal dunia, anggota TNI/Polri, dibawah umur dan lain-lain)
dapat memberikan masukan kepada petugas terkait.
Peranan
masyarakat dalam hal ini RT dan RW sangatlah penting dan strategis dalam
pengumpulan data kependudukan di tingkat paling bawah untuk mendata pemilih
yang berhak menjadi pemilih pada pelaksanaan pendaftaran pemilih dan
pemutakhiran data pemilih. Kesadaran masyarakat terhadap pelaksanaan pemilu
menandakan dukungan terhadap pelaksanaan pemilu dan demokrasi di negara kita.
Pada saat pemilu, diharapkan masyarakat ikut serta mensukseskan proses ini dengan
cara mengawasi pelaksanaannya.
Kesadaran
masyarakat terhadap pelaksanaan pemilu menandakan dukungan terhadap pelaksanaan
pemilu dan demokrasi di negara kita. Pada saat pemilu, diharapkan masyarakat
ikut serta mensukseskan proses ini dengan cara mengawasi pelaksanaannya.
Berdasarkan
uraian di atas, maka Lembaga Pengkajian Pembangunan Wilayah dan Pedesaan
melaksanakan kegiatan Seminar dengan tema “Peran Serta Mahasiswa &
Masyarakat Dalam Menyongsong Pilgubsu 2013 untuk Mewujudkan Pemilukada yang
Bersih”.